Baru- baru ini dikabarkan ada seorang pria yang meninggal dikarenakan sesak napas pada saat pesawat tersebut baru saja lepas landas, kondisinya terus menurun terlihat dengan kondisi pria tersebut yang sudah gemetar dan keringat dingin. Seorang pada saat itu yang bernama Tony Aldapa akhirnya mengambil tindakan dengan melakukan CPR kepada pria itu selama satu jam.

“saya membuat keputusan untuk mencoba menyelamatkan nyawa seorang penumpang, dengan dibantu dua tenaga medis lainnya kami melakukan tindakan CPR selama hampir satu jam sebelum akhirnya kami melakukan pendaratan darurat” tegasnya pada saat diwawancara Mirror UK

“saya juga tahu resiko melakukan CPR pada seseorang yang berpotensi positive covid-19, tetapi saya memilih tetap melakukannya karena itu merupakan tugas saya” tambahnya lagi.

Karena insiden tersebut pihak maskapai langsung  melakukan mengalihkan tujuan penerbangan dengan alasan darurat. Akhirnya pria tersebut pun meninggal dunia.

Pada awalnya penyebab kematian pria ini adalah serangan jantung, namun menurut pengakuan istrinya, sang suami sudah sepekan seperti mengalami gejala covid-19 seperti anosmia yaitu gejala dimana seseorang akan kehilangan kemampuan untuk mencium dan merasakan aroma.

Namun pria tersebut masih bisa melakukan perjalanan penerbangan sebelum akhirnya harus meninggal, setelah diinvestigasi ternyata pria tersebut berbohong kepada petugas. Ia mengatakan tidak mengalami gejala apa-apa.

Akhirnya setelah kejadian itu, CDC yang merupakan Pusat Pengendalian dan Penceagahn Penyakit Amerika menyatakan bahwa pria itu positif covid-19. Dengan terbitnya pernyataan tersebut, banyak penumpang pesawat pada hari itu melakukan protes, mengapa begitu bisa lalai dalam hal seperti ini.

Setelahnya tindakanpun diambil dengan mencari para penumpang yang sempat bersentuhan dengan orang itu, bisa saja orang tersebut sudah terpapar covid-19, pencarian juga dilakukan kepada tenaga medis yang memustuskan mengambil tindakan CPR pada saat kejadian berlangsung.

Salah satu penumpang menjelaskan keadaan pada saat itu “dia bergetar dan berkeringat cukup banyak selama didala pesawat, dia jelas sakit dan kemudian ditengah penerbangan dia meninggal, dan kami melakukan pendaratan darurat di New Oreleans dan setelah itu kami bertukar pesawat”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *